hitekno.com - TikTok kini jadi media sosial yang sedang naik daun, penggunanya bahkan dari kalangan selebriti. Namun belum lama ini muncul laporan terkait moderasi konten di TikTok.
Disebutkan kalau TikTok meminta para moderator mereka untuk menekan video-video dari pengguna yang berwajah jelek dan miskin.
Selain itu, laporan tersebut menyebutkan kalau TikTok meminta para moderator melakukan sensor konten berisi komentar dan pandangan politik tertentu.
Beberapa dokumen internal TikTok, demikian dilansir The Intercept akhir pekan lalu, menunjukkan bahwa media sosial asal Tiongkok tersebut memerintahkan para moderator untuk tidak mempromosikan video milik pengguna yang berwajah jelek.
Video-video yang direkam di lingkungan kumuh, miskin, dan reot juga dilarang dipromosikan, demikian diwartakan oleh CNet.
Tetapi seorang juru bicara TikTok mengatakan bahwa dokumen yang dilaporkan The Intercept itu adalah dokumen usang yang kini sudah tidak digunakan lagi.
"Panduan yang ditayangkan The Intercept itu tidak lagi digunakan," kata juru bicara TikTok.
Sementara itu pada akhir pekan kemarin The Wall Street Journal mewartakan bahwa TikTok sudah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan moderator di China untuk mengawasi konten-konten milik pengguna di luar negeri.
Alih-alih TikTok akan merekrut moderator dari negara-negara tempat perusahaan itu beroperasi.
Itulah jawaban TikTok ketika disebut-sebut melakukan sensor pada konten politik dan melarang moderator mempromosikan pengguna berwajah jelek dan miskin. Yang ternyata aturan tersebut sekarang tak lagi digunakan. (Suara.com/ Liberty Jemadu).
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi